Suwangi, 13 Juli 2026 - Suwangi sebuah nama yang mengandung makna harum. Namun, makna itu perlahan memudar ketika yang lebih mudah dijumpai justru tumpukan sampah di berbagai sudut desa. Ironisnya, persoalan ini bukan sesuatu yang baru. Sampah telah lama menjadi keluhan masyarakat, tetapi hingga kini belum terlihat penyelesaian yang benar-benar menyentuh akar masalah. Sampah bukan hanya persoalan estetika. Sampah yang dibiarkan menumpuk berpotensi mencemari lingkungan, mengganggu kesehatan masyarakat, dan menurunkan kualitas hidup. Lebih dari itu, tumpukan sampah adalah cerminan bagaimana sebuah persoalan publik dikelola. Ketika masalah terus berulang tanpa solusi yang jelas, masyarakat tentu berhak mempertanyakan keseriusan penanganannya. Dalam Musyawarah Desa Tahun 2025, saya mengusulkan agar Pemerintah Desa Suwangi mengalokasikan anggaran untuk penyediaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau setidaknya menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang lebih terarah dan berkelanjutan. Usulan tersebut lahir bukan untuk mencari sensasi, melainkan sebagai ikhtiar agar desa memiliki solusi jangka panjang, bukan sekadar penanganan sementara.
Namun, hingga artikel ini ditulis, saya belum melihat adanya langkah konkret yang menjawab kebutuhan tersebut. Sementara waktu terus berjalan, sampah terus bertambah. Yang tumbuh bukan optimisme masyarakat, melainkan pertanyaan: sampai kapan persoalan ini akan dibiarkan? Tentu, pengelolaan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah desa. Masyarakat juga memiliki kewajiban untuk menjaga kebersihan lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya. Akan tetapi, kesadaran masyarakat harus diimbangi dengan kehadiran sistem yang memadai. Mengajak warga untuk tidak membuang sampah sembarangan tanpa menyediakan solusi pengelolaan yang jelas hanya akan melahirkan persoalan yang sama di kemudian hari.
Pembangunan desa tidak hanya diukur dari berdirinya bangunan fisik atau besarnya anggaran yang terserap. Keberhasilan pembangunan juga diukur dari kemampuan pemerintah menjawab persoalan dasar yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Persoalan sampah adalah salah satunya. Sebab, lingkungan yang bersih adalah kebutuhan, bukan kemewahan. Tulisan ini bukan serangan kepada siapa pun, melainkan kritik yang lahir dari kepedulian. Kritik seharusnya dipandang sebagai bahan evaluasi, bukan ancaman. Sebab, desa yang maju adalah desa yang mampu menerima masukan dan bergerak memperbaiki diri.
Saya berharap Pemerintah Desa Suwangi segera memberikan perhatian yang lebih serius terhadap persoalan ini. Jika memang terdapat kendala anggaran, regulasi, atau kewenangan, sampaikan secara terbuka kepada masyarakat. Transparansi akan membangun kepercayaan, sementara tindakan nyata akan menghadirkan harapan.Sudah saatnya Suwangi kembali dikenal karena kebersihan lingkungannya, bukan karena tumpukan sampahnya. Jangan biarkan nama "Suwangi" kehilangan maknanya hanya karena kita terlambat bertindak. Sebab, desa yang harum bukan hanya indah dalam nama, tetapi juga bersih dalam kenyataan.
@adminjadiupdate
%20(1).jpg)