Gresik, 21 Oktober 2026 - Mahasiswa Magister Rekayasa Energi Terbarukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Alfian Arisandy, mendorong pemanfaatan teknologi tepat guna melalui pengembangan G-SHIELD (Gresik Smart Health & Intelligent Early-warning Food Device). Inovasi berbasis Internet of Things (IoT) ini dirancang untuk mendukung pemantauan awal kondisi makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pengembangannya juga membuka peluang edukasi kepada masyarakat mengenai efisiensi energi dan potensi integrasi Smart Grid Energi Terbarukan untuk mendukung operasional perangkat.
Bersama tim Gresik Futuretech, yang terdiri atas Khotibul Umam, Muhammad Rizqi Zamzami, dan Alfian Arisandy, G-SHIELD dikembangkan sebagai sistem pemantauan yang memanfaatkan sensor gas, mikrokontroler ESP32, layar OLED, Web Server, serta Telegram Bot. Teknologi tersebut dirancang untuk membantu pengguna memperoleh informasi awal berdasarkan respons sensor sehingga dapat menjadi pertimbangan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap kondisi makanan.
Pengembangan ini memiliki relevansi dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, terutama dalam memperkenalkan pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung keamanan pangan. Melalui sosialisasi dan demonstrasi yang dapat dirancang berdasarkan inovasi tersebut, masyarakat diharapkan memperoleh pemahaman mengenai penggunaan sensor, sistem peringatan dini, serta pemanfaatan informasi digital dalam mendukung pengawasan makanan.
Keamanan pangan merupakan aspek penting dalam penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis, mulai dari pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat. Karena itu, penguatan pemahaman mengenai pemantauan kondisi makanan dan penerapan prosedur keamanan pangan menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan program tersebut.
G-SHIELD dirancang menggunakan sensor MQ-3 dan MQ-135 yang terhubung dengan ESP32 untuk membaca respons sensor di sekitar sampel makanan. Informasi hasil pembacaan dapat ditampilkan melalui layar OLED dan Web Server, serta dikirimkan melalui Telegram Bot sebagai sarana penyampaian informasi.
Penerapan teknologi tersebut berpotensi menjadi materi edukasi bagi pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), petugas pengolahan makanan, dan pihak sekolah. Masyarakat dapat diperkenalkan pada cara kerja sensor, pemantauan berbasis IoT, pemanfaatan notifikasi digital, serta pentingnya menindaklanjuti indikasi perubahan kondisi makanan dengan prosedur pemeriksaan yang sesuai.
G-SHIELD tetap diposisikan sebagai alat bantu indikasi awal, bukan sebagai alat yang secara mandiri dapat memastikan makanan aman atau tidak aman. Validasi kinerja sensor dan pengujian laboratorium tetap diperlukan untuk mendukung penilaian keamanan pangan secara bertanggung jawab.
Selain aspek keamanan pangan, pengembangan G-SHIELD dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan hubungan antara teknologi digital dan pengelolaan energi. Sebagai mahasiswa Magister Rekayasa Energi Terbarukan UMM, Alfian Arisandy dapat mengaitkan inovasi ini dengan pentingnya efisiensi penggunaan listrik dan peluang pemanfaatan energi terbarukan dalam operasional perangkat elektronik.
Smart Grid merupakan konsep jaringan listrik cerdas yang memanfaatkan teknologi pemantauan, komunikasi, dan pengendalian untuk mendukung pengelolaan energi secara lebih efisien dan andal. Integrasinya dengan sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya, dapat dikaji untuk memenuhi kebutuhan listrik pada perangkat pemantauan yang beroperasi di lokasi pengolahan atau penyimpanan makanan.
Dalam konteks tersebut, pengembangan G-SHIELD berpotensi menjadi contoh pembelajaran lintas disiplin mengenai penggunaan IoT untuk pemantauan pangan sekaligus peluang pengelolaan kebutuhan energinya. Materi sosialisasi dapat mencakup pengenalan Smart Grid, prinsip efisiensi energi, pengukuran konsumsi daya perangkat, serta potensi penggunaan panel surya dan sistem penyimpanan energi sebagai alternatif pasokan listrik.
Integrasi tersebut memerlukan kajian teknis lebih lanjut, termasuk perhitungan kebutuhan daya, kapasitas sumber energi, keandalan pasokan, dan kesesuaian perangkat pendukung. Oleh karena itu, hubungan G-SHIELD dengan Smart Grid Energi Terbarukan pada tahap ini diarahkan sebagai peluang edukasi dan pengembangan, bukan klaim bahwa perangkat telah terhubung dengan jaringan Smart Grid atau menggunakan energi surya.
Pengembangan G-SHIELD membuka peluang pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat melalui sosialisasi, demonstrasi teknologi, pelatihan penggunaan sistem, dan pendampingan pemantauan pangan. Kegiatan dapat dirancang dengan melibatkan pengelola SPPG, petugas penanganan makanan, pihak sekolah, serta pemangku kepentingan yang berkaitan dengan penyelenggaraan MBG.
Dalam kegiatan tersebut, peserta dapat memperoleh pengenalan tentang pemantauan kondisi makanan berbasis IoT dan memahami peran teknologi digital dalam mendukung proses pengawasan. Materi dapat diperluas dengan edukasi Smart Grid Energi Terbarukan agar masyarakat juga mengenal pentingnya efisiensi energi dan peluang pemanfaatan sumber energi bersih untuk menunjang operasional teknologi.
Pendekatan ini menempatkan inovasi bukan sekadar sebagai pengembangan perangkat, tetapi juga sebagai sarana peningkatan literasi teknologi dan energi. Dengan pemahaman tersebut, masyarakat diharapkan dapat melihat bahwa penerapan teknologi untuk mendukung kebutuhan sehari-hari perlu mempertimbangkan aspek fungsi, keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan.
Keberhasilan kegiatan pengabdian nantinya dapat dievaluasi melalui peningkatan pemahaman peserta, kemampuan menggunakan perangkat sesuai panduan, serta hasil pengukuran konsumsi energi apabila kajian tersebut dilaksanakan. Dokumentasi dan data evaluasi diperlukan agar manfaat kegiatan dapat dijelaskan berdasarkan bukti.
Melalui pengembangan G-SHIELD, Alfian Arisandy bersama tim Gresik Futuretech membuka peluang penerapan teknologi digital untuk mendukung pemantauan awal kondisi makanan dalam Program MBG. Inovasi ini juga dapat dikembangkan sebagai sarana edukasi mengenai efisiensi energi dan peluang integrasi Smart Grid Energi Terbarukan.
Ke depan, kajian dapat diarahkan pada validasi sensor, evaluasi kemudahan penggunaan, pengukuran konsumsi daya, serta perancangan integrasi dengan sumber energi terbarukan apabila dinilai layak secara teknis. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pengelola SPPG, sekolah, dan pemangku kepentingan di bidang energi dapat memperkuat peluang penerapan inovasi sesuai kebutuhan masyarakat.
Melalui pendekatan pengabdian kepada masyarakat, inovasi G-SHIELD berpotensi menjembatani teknologi pemantauan pangan dengan edukasi energi berkelanjutan. Upaya tersebut sejalan dengan peran perguruan tinggi dalam mendorong penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan persoalan masyarakat, sekaligus membuka ruang pengembangan solusi yang lebih efisien dan berorientasi pada keberlanjutan.
@adminjadiupdate
