Program ini dilatarbelakangi oleh tingginya biaya listrik yang masih menjadi salah satu tantangan utama bagi peternak ayam di pedesaan. Selain itu, ketergantungan terhadap pasokan listrik konvensional dinilai dapat memengaruhi keberlangsungan operasional kandang, khususnya untuk kebutuhan penerangan pada malam hari. Melalui pemanfaatan energi surya, peternak diharapkan memiliki sumber energi yang lebih hemat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan Service Learning yang mengombinasikan proses pembelajaran akademik dengan penyelesaian permasalahan nyata di masyarakat. Tahapan kegiatan dimulai dengan survei lokasi dan analisis kebutuhan energi, dilanjutkan dengan penyusunan desain sistem PLTS, sosialisasi mengenai prinsip kerja dan komponen PLTS, hingga praktik pemasangan secara langsung bersama peternak. Pendekatan partisipatif ini bertujuan agar masyarakat tidak hanya menerima teknologi, tetapi juga mampu memahami cara pengoperasian dan perawatannya secara mandiri.
Sebagai mitra kegiatan, dua peternak ayam di Desa Sidomulyo, yaitu Bapak Harno dan Bapak Iqbal, terlibat aktif dalam seluruh rangkaian program. Untuk mengukur efektivitas edukasi, tim melaksanakan pre-test dan post-test sebelum dan sesudah penyampaian materi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan rata-rata pemahaman peserta sebesar 44,28 persen, terutama pada aspek pengenalan komponen PLTS dan prosedur perawatan sistem. Hasil tersebut menunjukkan bahwa metode pembelajaran berbasis praktik langsung mampu meningkatkan kapasitas teknis peternak dalam mengadopsi teknologi energi terbarukan.
Pada tahap implementasi, tim berhasil memasang sistem PLTS berkapasitas 100 Wp yang terdiri atas panel surya, baterai, solar charge controller, dan empat lampu LED sebagai sumber penerangan kandang. Sistem tersebut mampu menghasilkan energi rata-rata 0,42 kWh per hari dan memenuhi kebutuhan penerangan kandang selama 10–12 jam pada kondisi cuaca cerah. Selain itu, penggunaan PLTS berpotensi menghemat konsumsi listrik sekitar 14,6 kWh per bulan, sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi peternak dalam jangka panjang.
Tidak hanya memberikan manfaat dari sisi teknis dan ekonomi, kegiatan ini juga berhasil meningkatkan kepercayaan diri peternak untuk mengoperasikan serta melakukan perawatan sederhana terhadap sistem PLTS secara mandiri. Keterlibatan langsung selama proses instalasi menjadi faktor penting dalam mendorong adopsi teknologi dan membuka peluang replikasi program pada peternakan lain di kawasan pedesaan.
Melalui kegiatan ini, Ilham Saputra berharap pemanfaatan energi surya dapat menjadi langkah nyata dalam mendukung transformasi peternakan yang lebih efisien, mandiri, dan berkelanjutan. Program tersebut juga diharapkan menjadi model pengembangan peternakan berbasis energi terbarukan yang dapat diterapkan di berbagai wilayah Indonesia, sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek energi bersih dan terjangkau serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
@adminjadiupdate
