Menjadi Penggerak Pengembangan UMKM Binaan YBM PLN, Sosok Inspiratif Lalu Fahad Aditiawan Dorong Kemandirian Masyarakat Desa Sigar Penjalin, Lombok Utara

Tanjung, 02 Juli 2026 - Pemberdayaan masyarakat pascabencana tidak cukup hanya diwujudkan melalui pembangunan fisik atau bantuan jangka pendek. Pemulihan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat mampu kembali berdiri secara mandiri, memiliki sumber penghasilan yang berkelanjutan, dan mampu mengembangkan potensi ekonomi yang dimiliki. Gambaran tersebut dapat dilihat dari perjalanan UMKM binaan YBM PLN di Dusun Rangsot, Desa Sigar Penjalin, Kabupaten Lombok Utara.

Program pemberdayaan yang diinisiasi YBM PLN telah menjadi salah satu langkah strategis dalam membangkitkan ekonomi masyarakat pascagempa. Melalui pembentukan kelompok usaha, pendampingan, serta penguatan kapasitas masyarakat, berbagai UMKM mulai tumbuh dan berkembang sebagai penggerak ekonomi lokal. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kolaborasi antara masyarakat, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), serta berbagai pihak yang turut memberikan pendampingan.

Salah satu sosok yang aktif mengawal keberlanjutan program tersebut adalah Lalu Fahad Aditiawan, mahasiswa Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT). Selain menjadi bagian dari KSM, ia juga berperan sebagai penggerak dalam mendampingi pelaku UMKM, membantu pengembangan produk, serta memperluas pemasaran agar produk-produk lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Menurut Lalu Fahad Aditiawan, pemberdayaan masyarakat tidak boleh berhenti setelah bantuan diberikan. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk terus mengembangkan usahanya secara mandiri.

"Program pemberdayaan seperti ini bukan hanya tentang memberikan modal atau membentuk kelompok usaha. Yang terpenting adalah membangun pola pikir masyarakat agar terus berinovasi, meningkatkan kualitas produk, dan mampu memasarkan hasil usahanya secara berkelanjutan. Ketika masyarakat sudah mandiri, maka tujuan utama pemberdayaan telah tercapai," ujarnya.

Ia juga menilai bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pemberdayaan merupakan implementasi nyata dari ilmu yang diperoleh di bangku kuliah. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya memiliki tanggung jawab akademik, tetapi juga tanggung jawab sosial untuk hadir memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

"Sebagai mahasiswa Teknik Pertanian UMMAT, saya ingin ilmu yang dipelajari tidak hanya berhenti di ruang kelas. Pendampingan kepada UMKM memberikan pengalaman berharga sekaligus menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat. Kami berharap produk-produk lokal dari Dusun Rangsot dapat terus berkembang, memiliki nilai tambah, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tambahnya.

Keberadaan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang dibentuk sejak program pemberdayaan pascagempa juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan UMKM binaan. KSM berfungsi sebagai wadah koordinasi, pendampingan, sekaligus penghubung antara pelaku usaha dengan berbagai pihak yang dapat mendukung pengembangan usaha.

Kolaborasi antara YBM PLN, KSM, pelaku UMKM, dan mahasiswa menjadi contoh bahwa pembangunan masyarakat akan lebih efektif apabila dilakukan secara bersama-sama. Sinergi tersebut tidak hanya melahirkan usaha-usaha produktif, tetapi juga membangun kepercayaan diri masyarakat untuk terus berkembang meskipun pernah menghadapi bencana besar.

Ke depan, model pemberdayaan seperti ini diharapkan dapat terus diperluas dan menjadi inspirasi bagi berbagai daerah lainnya. Dengan melibatkan perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga sosial, dan masyarakat dalam satu ekosistem kolaboratif, pemberdayaan tidak hanya menjadi program sesaat, melainkan menjadi fondasi bagi terwujudnya masyarakat yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing.


@adminjadiupdate

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama