Malang, 24 Juli 2026 - Penerapan Biosolar B50 sebagai bagian dari strategi pemerintah dalam mempercepat transisi menuju energi terbarukan menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil. Di balik manfaatnya dalam menekan emisi karbon dan meningkatkan pemanfaatan energi berbasis nabati, implementasi Biosolar B50 juga menghadirkan tantangan teknis, khususnya bagi kendaraan bermesin diesel generasi lama.
Pakar otomotif sekaligus Dosen Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Ir. Yepy Komaril Sofi’i, S.T., M.T., menjelaskan bahwa salah satu komponen yang perlu mendapat perhatian serius adalah seal elastomer pada sistem bahan bakar. Material ini berfungsi sebagai penyekat untuk mencegah kebocoran pada sambungan saluran bahan bakar, pompa injeksi, hingga injektor.
Menurut Yepy, kandungan biodiesel yang lebih tinggi pada Biosolar B50 memiliki karakteristik kimia yang berbeda dibandingkan solar konvensional. Pada mesin diesel generasi lama yang masih menggunakan seal berbahan karet elastomer konvensional, paparan B50 dalam jangka panjang dapat mempercepat proses degradasi material.
"Seal elastomer yang tidak dirancang untuk kompatibel dengan kandungan biodiesel tinggi berpotensi mengalami pembengkakan (swelling), kehilangan elastisitas, mengeras, hingga retak. Kondisi tersebut dapat memicu kebocoran pada sistem bahan bakar dan menurunkan keandalan mesin," jelas Yepy.
Selain memengaruhi material seal, Biosolar B50 juga memiliki sifat detergency yang lebih tinggi sehingga mampu meluruhkan endapan kotoran yang selama ini menempel di dalam tangki bahan bakar. Endapan tersebut dapat terbawa menuju filter dan sistem injeksi sehingga meningkatkan risiko penyumbatan apabila perawatan kendaraan tidak dilakukan secara berkala.
Karakteristik lain yang perlu diwaspadai adalah sifat higroskopis Biosolar B50 yang mudah menyerap air dari lingkungan. Air yang terakumulasi di dalam tangki dapat mempercepat korosi pada komponen logam sekaligus menjadi media pertumbuhan mikroorganisme yang menghasilkan endapan lumpur pada saluran bahan bakar.
Untuk mengantisipasi berbagai risiko tersebut, Yepy menyarankan pemilik kendaraan diesel, khususnya produksi lama, melakukan inspeksi menyeluruh terhadap komponen sistem bahan bakar. Seal, selang, gasket, maupun komponen elastomer lainnya sebaiknya diganti dengan material sintetis yang telah memiliki kompatibilitas terhadap bahan bakar biodiesel berkadar tinggi, seperti fluoroelastomer (FKM/Viton) atau material lain yang direkomendasikan oleh produsen kendaraan.
Selain itu, perawatan preventif juga perlu ditingkatkan melalui penggantian filter bahan bakar dengan interval yang lebih pendek, pemeriksaan rutin terhadap kemungkinan kebocoran, serta pengurasan air pada water separator agar sistem bahan bakar tetap bekerja secara optimal.
Yepy menegaskan bahwa implementasi Biosolar B50 merupakan kebijakan strategis yang memberikan manfaat besar bagi ketahanan energi nasional dan pengurangan emisi. Namun, keberhasilan implementasi tersebut juga memerlukan kesiapan teknologi kendaraan serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perawatan mesin sesuai karakteristik bahan bakar baru.
"Transisi menuju bahan bakar yang lebih ramah lingkungan harus diikuti dengan adaptasi pada aspek rekayasa dan pemeliharaan kendaraan. Dengan perawatan yang tepat dan penggunaan komponen yang kompatibel, mesin diesel tetap dapat beroperasi secara optimal meskipun menggunakan Biosolar B50," pungkasnya.
@adminjadiupdate
