Sleman, 30 Juli 2026 - Inovasi membanggakan kembali lahir dari dunia pendidikan Indonesia. Dua siswa SMP Negeri 1 Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, berhasil mengembangkan sebuah alat pendeteksi kesegaran makanan yang mampu mengidentifikasi apakah makanan masih layak dikonsumsi atau telah mengalami pembusukan hanya dalam waktu sekitar lima detik.
Karya inovatif tersebut dikembangkan oleh Pradipta Widhi Nugroho dan Abyan Syahlefi, siswa kelas IX B yang tergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR). Alat yang mereka ciptakan diberi nama Detektor MBG, sebagai bentuk kontribusi terhadap upaya meningkatkan keamanan pangan, khususnya dalam mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Abyan menjelaskan bahwa ide pembuatan alat tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap meningkatnya pemberitaan mengenai kasus dugaan keracunan makanan di berbagai daerah. Melalui inovasi ini, mereka berharap risiko keracunan akibat mengonsumsi makanan yang telah basi dapat diminimalkan, terutama di lingkungan sekolah.
Secara teknis, Detektor MBG memanfaatkan kombinasi sensor gas MQ-3 dan MQ-135 yang berfungsi mendeteksi senyawa gas hasil pembusukan makanan. Sistem tersebut dipadukan dengan kipas penyedot udara, sensor TDS-3100, serta mikrokontroler ESP32 yang mengolah seluruh data hasil pembacaan sensor.
Pengoperasian alat pun cukup sederhana. Sampel makanan hanya perlu didekatkan ke perangkat, kemudian sensor akan menganalisis kandungan gas yang dihasilkan. Dalam waktu sekitar lima detik, hasil pemeriksaan akan ditampilkan melalui layar LCD dengan indikator "Aman" apabila makanan masih layak dikonsumsi atau "Basi" jika terdeteksi mengalami pembusukan. Selain itu, hasil deteksi juga dapat dipantau secara real time melalui aplikasi berbasis Kodular yang terhubung menggunakan jaringan Wi-Fi.
Pengembangan alat tersebut berlangsung selama kurang lebih lima bulan, mulai dari penyusunan konsep, perancangan perangkat keras, hingga proses pemrograman sistem. Seluruh proses penelitian dan pembuatan alat dilakukan dengan biaya sekitar Rp500.000.
Menurut Abyan, tantangan terbesar selama proses pengembangan terletak pada penyempurnaan sistem pemrograman, terutama dalam menstabilkan pembacaan sensor yang sempat mengalami berbagai kendala teknis.
Pembina KIR SMP Negeri 1 Turi, Ani Marwati, mengungkapkan bahwa inovasi ini merupakan bentuk kepedulian para siswa terhadap pentingnya keamanan pangan di lingkungan pendidikan. Menurutnya, makanan yang telah mengalami pembusukan umumnya mengalami perubahan tingkat keasaman maupun kondisi fisik akibat penyimpanan yang tidak sesuai, sehingga diperlukan alat yang mampu memberikan deteksi dini sebelum makanan dikonsumsi.
Ia berharap Detektor MBG dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan untuk memastikan makanan yang disajikan kepada peserta didik benar-benar aman dikonsumsi, sehingga mampu meningkatkan rasa aman dan nyaman selama pelaksanaan program penyediaan makanan di sekolah.
Ke depan, tim KIR SMP Negeri 1 Turi berkomitmen untuk terus menyempurnakan teknologi tersebut, sekaligus mengajukan hak paten agar inovasi yang lahir dari kreativitas pelajar Indonesia ini dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh berbagai sekolah maupun institusi yang bergerak di bidang keamanan pangan.
@adminjadiupdate
