Gelombang Tak Terlihat di Bawah Laut Selat Lombok Simpan Energi Skala Gigawatt, Potensi Jadi Sumber Listrik Masa Depan


Lembar, 03 Oktober 2026 - Permukaan Selat Lombok mungkin terlihat tenang dari atas, tetapi di bawahnya berlangsung dinamika laut yang luar biasa. Jauh dari pandangan mata, lapisan-lapisan air laut bergerak membentuk gelombang internal (internal waves) yang membawa energi dalam jumlah sangat besar.

Fenomena alam yang nyaris tidak terlihat dari permukaan tersebut kini menjadi perhatian ilmuwan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa Selat Lombok merupakan salah satu kawasan penting pembentukan gelombang internal di Indonesia, dengan energi yang terlibat dalam prosesnya mencapai skala gigawatt.

Gelombang internal terbentuk ketika massa air dengan densitas berbeda bergerak dan berinteraksi akibat pasang surut, stratifikasi suhu dan salinitas, serta bentuk dasar laut. Di Selat Lombok, proses tersebut semakin kompleks karena wilayah ini menjadi salah satu jalur penting Indonesian Throughflow (ITF) yang membawa massa air dari Samudra Pasifik menuju Samudra Hindia.

Energi besar yang bergerak di bawah permukaan tersebut berbeda dengan gelombang laut biasa yang terlihat dari permukaan. Gelombang internal bergerak di dalam kolom air, pada lapisan yang memiliki perbedaan densitas akibat perubahan temperatur dan salinitas.

Berbeda dengan gelombang permukaan yang mudah diamati ketika laut bergelombang, internal wave bergerak pada bagian dalam kolom air. Fenomena tersebut terjadi ketika massa air dengan karakteristik densitas berbeda mengalami gangguan akibat pasang surut dan kondisi topografi dasar laut.

Ketika arus pasang surut melewati topografi dasar laut, massa air dapat terdorong naik dan turun sehingga menghasilkan gelombang internal. Dalam kondisi tertentu, gelombang tersebut berkembang menjadi internal solitary waves (ISW) atau gelombang internal soliter.

Penelitian Aiki, Matthews, dan Lamb yang diterbitkan dalam Journal of Geophysical Research: Oceans menunjukkan besarnya energi yang terlibat dalam dinamika gelombang internal di Selat Lombok.

Melalui pemodelan numerik, penelitian tersebut memperkirakan sekitar 3,9 gigawatt energi masuk ke sistem arus pasut barotropik dan baroklinik di Selat Lombok. Sekitar 2,6 gigawatt di antaranya diradiasikan dalam bentuk gelombang gravitasi internal.

Angka tersebut tentu tidak berarti Selat Lombok saat ini memiliki pembangkit listrik bawah laut berkapasitas 2,6 GW. Energi tersebut merupakan energi mekanik dalam sistem oseanografi, sedangkan jumlah yang secara teknis dapat dipanen menjadi listrik akan jauh lebih kecil dan masih memerlukan penelitian khusus.

Namun, angka tersebut memberikan gambaran mengenai besarnya sumber energi yang secara alami bergerak di bawah permukaan laut. Potensi energi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa fenomena gelombang internal di Selat Lombok menarik untuk terus dikaji.

Penelitian Purwandana dan tim menunjukkan bahwa fenomena tersebut memang terjadi di Selat Lombok. Pengamatan terhadap gelombang internal menemukan amplitudo yang dapat mencapai puluhan meter dan kecepatan fase sekitar 1,2 meter per detik.

Dengan kata lain, meskipun tidak terlihat dari permukaan, terdapat massa air dalam jumlah besar yang bergerak secara teratur membawa energi melalui kolom laut. Pergerakan tersebut berlangsung mengikuti dinamika oseanografi yang dipengaruhi oleh pasang surut, stratifikasi laut, serta kondisi arus di kawasan tersebut.

Penelitian terhadap internal solitary waves di perairan sekitar Bali juga memberikan gambaran mengenai besarnya energi yang dibawa oleh paket gelombang tersebut. Salah satu penelitian melaporkan energi paket gelombang sekitar 147 megajoule per meter, dengan estimasi fluks energi rata-rata sekitar 0,6–1,0 gigawatt per siklus pasang surut.

Fenomena ini menjadikan Selat Lombok menarik untuk dikaji dari perspektif baru. Kawasan tersebut bukan hanya merupakan jalur arus laut dan kawasan penting dalam sistem oseanografi Indonesia, tetapi juga dapat menjadi lokasi penelitian mengenai potensi sumber energi laut bawah permukaan.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah energi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Secara teori, hal tersebut memungkinkan untuk dikaji, tetapi teknologi untuk memanen energi gelombang internal masih jauh lebih awal dibandingkan teknologi turbin arus laut atau energi gelombang permukaan.

Konsep yang dapat dikembangkan antara lain perangkat bawah laut yang memanfaatkan gerakan osilasi massa air, hydrofoil, oscillating body, hingga sistem power take-off yang mengubah gerakan mekanis menjadi energi listrik.

Perangkat tersebut harus ditempatkan pada lapisan laut yang memiliki aktivitas gelombang paling kuat. Karena itu, pemetaan temperatur, salinitas, densitas, kecepatan arus, amplitudo gelombang, serta perubahan struktur gelombang terhadap kedalaman menjadi tahap penting sebelum teknologi dapat dikembangkan.

Salah satu kedalaman yang menarik untuk dikaji adalah sekitar 50 meter. Pada lapisan ini, perubahan temperatur dan struktur massa air dapat memberikan informasi mengenai dinamika gelombang internal.

Penelitian menggunakan metode coastal acoustic tomography di Selat Lombok telah mengamati struktur bawah permukaan pada beberapa lapisan kedalaman, termasuk lapisan 0–50 meter.

Namun, kedalaman 50 meter tidak otomatis menjadi lokasi terbaik untuk pemasangan perangkat energi. Posisi lapisan aktif gelombang internal dapat berubah mengikuti pasang surut, musim, stratifikasi laut, serta perubahan kekuatan Indonesian Throughflow.

Karena itu, dibutuhkan pengamatan jangka panjang untuk menentukan kedalaman dan lokasi dengan fluks energi paling konsisten. Data tersebut diperlukan agar rancangan teknologi pemanen energi dapat ditempatkan pada lokasi yang tepat dan bekerja secara optimal.

Potensi energi yang besar tidak serta-merta berarti energi tersebut mudah dipanen. Perangkat yang ditempatkan di bawah laut harus menghadapi tekanan air, korosi, biofouling, arus kuat, perubahan kondisi oseanografi, serta kebutuhan pemeliharaan yang relatif kompleks.

Selain itu, tidak seluruh energi gelombang dapat diubah menjadi listrik. Sebagian energi akan tetap berada dalam sistem laut, sementara sebagian lainnya hilang akibat gesekan dan proses pencampuran massa air.

Karena itu, penelitian potensi energi harus membedakan antara energi yang tersedia secara alami, energi yang secara teknis dapat diekstraksi, dan energi listrik yang benar-benar dapat dihasilkan. Perbedaan tersebut penting agar potensi energi yang dilaporkan tidak disamakan dengan kapasitas pembangkit listrik yang benar-benar dapat dibangun.

Fenomena gelombang internal Selat Lombok memberikan peluang penelitian yang menarik bagi pengembangan teknologi energi laut Indonesia. Dengan menggabungkan data satelit, pengukuran CTD, ADCP, sensor temperatur, pemodelan hidrodinamika tiga dimensi, dan analisis fluks energi, para peneliti dapat memetakan lokasi dengan potensi energi gelombang internal paling besar.

Langkah berikutnya adalah merancang perangkat konversi yang mampu bekerja pada kondisi bawah laut dan menghitung berapa besar energi yang secara realistis dapat dikonversi menjadi listrik. Tahapan tersebut membutuhkan penelitian multidisiplin yang melibatkan bidang oseanografi, teknik kelautan, teknik energi, material, dan sistem kelistrikan.

Jika berbagai tantangan tersebut dapat diatasi, sumber energi yang selama ini tersembunyi dari pandangan manusia dapat membuka peluang baru dalam pemanfaatan energi laut. Selat Lombok dapat menjadi salah satu lokasi penting untuk penelitian lebih lanjut mengenai pemanfaatan energi dari dinamika laut bawah permukaan.

Selat Lombok bukan hanya menyimpan arus yang mengalir di antara Bali dan Lombok. Di bawah permukaannya, terdapat gelombang tak terlihat yang membawa energi dalam skala sangat besar—sebuah fenomena alam yang kini mulai dilihat bukan hanya sebagai objek penelitian oseanografi, tetapi juga sebagai peluang pengembangan energi terbarukan masa depan.


@adminjadiupdate

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama